Tuesday, April 29, 2014

Gelas Jiwa vs Kolam Jiwa

Suatu pagi, seorang pemuda bernama Aaron Aziz yang dirundung malang bertemu seorang tua yang bijaksana.

Langkah anak muda itu longlai dan air mukanya kelihatan pucat tidak bermaya serta seperti orang yang tidak bahagia. Tanpa membuang masa, anak muda itu menceritakan semua masalahnya. Impiannya tidak tercapai dan gagal dalam kehidupan, perniagaan dan percintaan sambil Pak Tua yang bijak itu mendengarnya dengan teliti dan saksama.


Dia kemudian mengambil segenggam garam dan meminta anak muda itu mengambil segelas air. Dia menabur garam itu ke dalam gelas sebelum mengacaunya dengan sudu.

"Cuba, minum ini dan katakan bagaimana rasanya...", ujar Pak Tua itu.

"Masin sangat sampai pahit, pahit sangat," jawab Aaron Aziz sambil meludah ke sisinya sedangkan Pak Tua itu tersenyum melihat telatah itu.

Kemudian, Pak Tua mengajak Aaron Aziz untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan berhampiran tempat tinggalnya. Mereka berjalan beriringan dan akhirnya sampai ke tepi kolam yang tenang itu.

Pak Tua itu menabur segenggam garam ke kolam itu dan menggunakan sepotong kayu untuk mengacau dan mencipta riak air yang mengusik ketenangan kolam itu.

"Cuba ambil air dari telaga ini, dan minumlah" kata Pak Tua.

Sebaik anak Aaron Aziz selesai meneguk air, Pak Tua berkata: "Bagaimana rasanya?"
"Segar." sahut Aaron Aziz.

"Apakah kamu rasa masin garam di dalam air itu?", tanya Pak Tua lagi.
"Tidak," jawab Aaron Aziz.

Pak Tua menepuk bahu Aaron Aziz lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di tepi kolam itu.

"Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan adalah umpama segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu sama dan memang akan tetap sama. Tapi, kepahitan yang kita rasakan sangat tergantung dari wadah atau tempat yang kita miliki. Kepahitan itu akan diasaskan daripada perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung pada hati kita.

"Jadi, saat kamu rasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang boleh kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu. Luaskan wadah pergaulanmu supaya kamu mempunyai persekitaran hidup yang luas. Kamu akan banyak belajar daripadanya," katanya.

Pak Tua itu terus memberikan nasihat dengan berkata: "Jiwamu adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan jiwamu itu seperti gelas, buatlah laksana kolam yang mampu merendam setiap kepahitan dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan."

Lalu, kedua-duanya pulang.

Mereka sama-sama belajar pada hari itu. Pak Tua, si orang bijak itu, kembali menyimpan 'segenggam garam' untuk anak muda yang lain, yang sering datang padanya membawa keresahan jiwa.


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...